Jumat, 02 November 2012

Kerajinan tangan dari tulang ayam

Tulang belulang berserakan di tepi jalan persis di muka rumah Beni,
warga Tlatar, Kabupaten Boyolali, Minggu (11/1). Tulang ayam, ikan, dan
puyuh dijemur di atas seng. Di atas meja yang berjarak dua meter dari
seng itu, terlihat kokoh kerangka warna putih berbentuk naga, burung
phoenix, dan sebuah miniatur sepeda motor Harley Davidson.






Spoilerfor ini gambarnya gan:






































































Kerajinan
beraneka bentuk karya Beni (29) dan Mino (27) itu terbilang unik. Naga,
burung phoenix, dan miniatur sepeda motor Harley Davidson itu disusun
dari potongan tulang ayam dan ikan yang direkatkan. Naga sepanjang 1,5
meter, misalnya, moncongnya tersusun dari pecahan kepala ayam yang
ditambah tulang punggung puyuh. Taring naga dari tulang-tulang ikan.
Bentuk lain yang pernah mereka buat ialah sosok monster, ikan, dan
kapal.




"Bahan bakunya kami ambil dari sisa pembuangan tulang di
warung- warung makan di Boyolali. Untuk membersihkan tulangnya dari sisa
daging, kami masukkan ke kolam lele di belakang rumah. Tiga hari
kemudian diangkat," kata Beni.




Harga jual karya mereka cukup
tinggi. Monster setinggi 50 sentimeter dibeli beberapa kolektor seharga
Rp 400.000. Naga dan phoenix yang sedang mendapat sentuhan akhir akan
ditawarkan sebesar Rp 7,5 juta per unit. Kedua kerajinan ini dihargai
tinggi karena sulit dan lama pembuatannya. Mereka membutuhkan waktu dua
bulan untuk menyelesaikannya.




"Yang paling sulit itu memilih
tulang-tulang yang cocok. Kami tidak membentuk tulangnya, tetapi
menempelkan langsung tulang yang sesuai. Kalau harganya lebih tinggi
dari biaya, jangan dilihat itu sebagai keuntungan, tetapi biaya
kreativitasnya," kata Mino.




Lain lagi yang dilakukan Karsono,
Ketua Yayasan An Nur di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Cilacap. Di
tangan bapak tiga anak ini, serabut kelapa menjelma menjadi beraneka
macam produk, seperti jok mobil, jok pesawat, jok sofa, matras,
penyaring udara, bantal, dan guling.




Untuk menjadikan produk
serabut kelapa itu makin bermutu, Karsono mencampurnya dengan latek atau
getah karet. Maka, produk- produk itu pun bernama sebutret, yaitu
serabut kelapa berkaret. Walhasil, produk hasil perpaduan dua bahan baku
yang semula dianggap tak berguna itu mampu menembus pasar ekspor.




Karsono
mulai menekuni usaha sebutret sejak 1,5 tahun silam. Permintaan hasil
produksinya dari luar negeri datang dari sembilan negara, di antaranya
Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa.
Produk-produk itu sebagian dijual ke Bali dan Jakarta dengan harga Rp
2,5 juta per kubik.




"Satu negara rata-rata meminta minimal 150
kubik per bulan atau senilai Rp 450 juta. Bila sembilan negara, maka
yang harus kami penuhi sampai 1.350 kubik per bulan," ujar Karsono.




Bahan
baku untuk membuat sebutret juga sangat mudah dan murah didapatkan,
yakni serabut kelapa yang harganya hanya Rp 60 per kilogram serta karet
alam atau latek yang banyak terdapat di Cilacap.




Apa yang
dilakukan Beni dan Mino, serta Karsono, tersebut merupakan salah satu
bentuk pengembangan ekonomi kreatif. Mereka memanfaatkan bahan limbah
yang semula mempunyai nilai ekonomi sangat rendah, bahkan tidak ada.




Hasilnya,
luar biasa. Karsono, misalnya, dari usaha produksi sebutret itu mampu
menghidupi 200 anak asuhnya yang nyantri di Pondok Pesantren An Nur.
Selain mengaji di pondok, 200 santri itu mengerjakan pembuatan
produk-produk sebutret. Mereka tak lagi pusing memikirkan uang sekolah
dan mondok di pesantren karena semuanya gratis dicukupi dari hasil
menjual sebutret.




Mungkin masih banyak lagi Beni, Mino, dan
Karsono lainnya di Jawa Tengah ini. Selain itu, mungkin masih banyak
potensi ekonomi kreatif lainnya di Jateng yang belum tergarap. (gal/han)




Diambil dari: www.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar